Apiknya Eksekusi Penalti ‘Si Gila’ Abreu

Johannesburg – Di bawah tekanan yang hadir di babak adu penalti Uruguay kontra Ghana, Sebastian Abreu menyontek bola dengan santainya bak tak ada beban. Jangan sebut Abreu gila, seperti julukannya, karena sontekannya adalah gol penalti berkelas.

Setelah hanya bermain 1-1 sepanjang 2×45 menit plus perpanjangan waktu, Sabtu (3/7/2010) dinihari WIB, laga Uruguay versus Ghana harus diselesaikan lewat babak tos-tosan.
Abreu menjadi penendang kelima untuk Uruguay. Sebelumnya sudah ada empat rekannya yang menyepak, dengan Maxi Perreira satu-satunya yang gagal menyarangkan bola sementara Ghana cuma bisa dua kali menceploskan bola dari empat penendangnya. Skor 3-2 di babak adu penalti.

Setelah membawa Jabulani ke titik putih, Abreu meletakkannya dan melangkah mundur untuk ambil ancang-ancang. Para fans dan pemain Uruguay menanti dalam cemas.

Si pemain bernomor punggung 13 kemudian memulai larinya sedikit dari luar kotak penalti dan kemudian dengan tenang menyontek bola. Ringan saja. Bola melambung perlahan dan kiper Richard Kingson salah menerka. Uruguay berjaya dan maju ke semifinal.

Eksekusi penalti macam yang dilakukan Abreu ini bukan yang pertama dilakukan seorang pemain sepakbola, juga bukan yang termudah. Untuk melakukannya dibutuhkan ketenangan dan kepercayaan diri luar biasa.

“Itu hanya satu cara dalam mengeksekusinya. Saya percaya dengan cara itu dan tim sudah memberi saya kepercayaan diri untuk melakukannya,” komentar Abreu di The Canadian Press.

Dengan panggung semegah perempatfinal Piala Dunia, banyak yang langsung menyetarakan penalti Abreu itu dengan eksekusi Antonin Panenka untuk Cekoslowakia saat memenangi Piala Eropa 1976 usai mengalahkan Jerman Barat lewat adu penalti.

Panenka sebenarnya juga bukan yang pertama melakukannya, tapi dia disebut-sebut menyempurnakan gaya penalti itu sekaligus membuatnya dikenal banyak orang. Apalagi ketika itu Panenka adalah penendang penentu untuk timnya.

Eksekusi gaya Panenka ini niscaya bikin orang yang melihatnya geleng-geleng kepala, plus berdecak kagum jika sukses, karena risiko yang diambil si penendang tidak kecil. Untuk Abreu, mungkin banyak yang akan maklum karena toh pemain berusia 33 tahun itu memang punya julukan El Loco atau Si Gila.

“(Eksekusi Abreu) Itu tidak gila, itu adalah sebuah gol. Saya menyebutnya berkelas. Dia juga melakukannya lawan Brasil di Copa America dan hasilnya sama,” puji Pelatih Uruguay Oscar Tabarez.

Lagipula bukankah cara-cara “gila” terkadang memang dibutuhkan untuk mencapai hasil luar biasa? Well, setidaknya itu berhasil untuk Abreu.

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.