CUT NYAK DHIEN ( 1848 – 1908 )

dhien_1Berbicara masalah gender, Aceh dapat dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia. Sejarah panjang yang dimiliki daerah ini membuktikan bahwa para wanita Aceh telah mendarmabaktikan dirinya dalam berbagai bidang, baik sebagai pemimpin di tingkat paling rendah sampai dengan pemimpin tertinggi di masyarakat. Dalam struktur masyarakat wanita mempunyai otonomi yang cukup, yang mana tampak pada sebutan po rumoh bagi wanita. (Sufi, 1997). Di bidang lain terlihat dari adanya wanita yang menjadi Sultanah (wanita kepala pemerintahan Kerajaan Aceh), laksamana (pemimpm angkatan perang), uleebalang (kepala kenegerian) dan tidak sedikit yang berperan sebapai pemimpin perlawanan terhadap penjajah.

Peran wanita di Aceh dalam bidang peperangan secara panjang lebar telah diuraikan oleh H.C. Zentgraff. Dia menyebut para wanita Aceh sebagai “de leidster van het verzet” (pemimpin perlawanan) dan grandes dames (wanita-wanita besar). Keberanian dan kesatriaan wanita Aceh melebihi segala wanita yang lain, lebih-lebih dalam mempertahankan cita-cita kebangsaan dan keagamaannya dan ia berada, baik di belakang layar maupun secara terang-terangan menjadi pemimpin perlawanan tersebut. la rela menerima hidup dalam kancah peperangan. Di balik tangan yang sifat lemah-lembut, kulit halus, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya di tangan wanita Aceh. Zentgraaff (1983: 95) menyatakan kelebihan yang dipunyai oleh wanita Aceh dengan pernyataan sebagai berikut: “Dari pengalaman yang dimiliki oleh panglima-panglima perang Belanda yang telah melakukan peperangan di segala penjuru dan pojok Kepulauan Indonesia, bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani perang serta fanatik, dibandingkan dengan bangsa Aceh, dan kaum wanita Aceh yang melebihi kaum wanita bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati. Bahkan, mereka pun melampaui kaum laki-laki Aceh yang sudah dikenal bukanlah laki-laki lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka”.

Salah satu Srikandi Aceh yang sesuai dengan gambaran H.C. Zentgraff di atas adalah Cut Nyak Dhien. la adalah seorang wanita yang mempunyai peran penting dalam perjuangan dan perlawanan rakyat Aceh dalam menentang kolonialisme Belanda. Banyak sudah tulisan-tulisan sejarah yang pernah ditulis oleh bangsa Indonesia maupun bangsa asing, bahkan melalui “tangan dingin” seorang sutradara terkenal di Indonesia Eros Djarot, Cut Nyak Dhien telah difilmkan dan mendapatkan supremasi yang terbesar di pentas perfilman di Indonesia dan festival film Asia. Sebagai penghargaan terhadap perjuangan Cut Nyak Dhien, pemerintah mengangkat Cut Nyak Dhien sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.

Perang Kolonial Belanda di Aceh Aceh yang merupakan propinsi yang paling ujung letaknya, di sebelah utara pulau Sumatra, bagian paling barat dan paling utara dari Kepulauan Indonesia. Secara astronomis, Aceh ini terletak di antara 950 13’ dan 980 17’ BT dan 20 8’ dan 50 40’ LU2 (JMBRAS, 1879). Daerah ini mencakup daerah seluas 55.390 Km. Dengan demikian, secara geografis, Aceh mempunyai letak yang sangat strategis. Daerah ini terletak di tepi Selat Malaka. Karena letaknya di tepi Selat Malaka, maka daerah ini penting pula dilihat dari sudut lalu lintas internasional sehingga merupakan pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia. Sejak zaman Neolithikum, Selat Malaka merupakan terusan penting dalam migrasi bangsa di Asia, gerak ekspansi kebudayaan India dan sebagai jalan niaga dunia Selat Malaka adalah jalan penghubung antara dua pusat kebudayaan Cina dan India. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila wilayah sekitar Selat Malaka selalu mempunyai peranan penting sepanjang gerak sejarah Indonesia. Muncul dan berkembangnya kerajaan di sekitar wilayah ini tidak mungkin kita pisahkan dari letak georafisnya yang sangat strategis tersebut. Karena keadaan geografis yang strategis ini membawa dampak Aceh banyak didatangi oleh berbagai bangsa asing dengan berbagai macam motif dan kepentingan, baik budaya, politis, maupun ekonomis. Dengan berbagai motif dan kepentingan tersebut akan dapat membawa dampak positif dan negatif pula bagi perkembangan sejarah Aceh itu sendiri. Di antara bangsa asing (Barat) terdapat bangsa yang bermaksud menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh, sehingga timbullah reaksi yang berupa perlawanan-perlawanan terhadap bangsa asing yang melakukan tindakan tersebut. Salah satu bangsa asing pertama yang menghadapi perlawanan rakyat Aceh adalah Portugis. Sejak Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 Aceh merasa, kedudukannya terancam. Oleh karena itu, Aceh mencoba melawan dan mengusir Portugis dari Malaka. Konflik Aceh-Portugis ini berlangsung sepanjang abad XVI hingga akhir perempatan abad XVII. Serangan terhadap kedudukan Portugis berulang kali dilakukan, yang pertama pada tahun 1537 dan yang terakhir pada tahun 1568. Pada serangan terakhir itu, Aceh telah menggunakan kekuatan yang terdiri atas 15.000 orang Aceh, 400 orang Turki, disertai pula dengan 200 buah meriam besar dan kecil (Djajadiningrat, 1961: 65). Bangsa Asing lain yang berusaha menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh adalah Belanda. Rintisan permakluman perang Aceh oleh Belanda diumumkan oleh komisaris pemerintah yang merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda F.N. Nieuwenhuijn, diawali dengan penandatanganan Traktat Sumatra antara
Belanda dan Inggris dalam tahun 1871, yang antara lain “memberi kebebasan kepada Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Pulau Sumatra”, sehingga tidak ada kewajiban lagi bagi Belanda untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh yang sebelumnya telah diakui, baik oleh Belanda maupun lnggris seperti yang tercantum di dalam Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824. Pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873 dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen – yang berlabuh di antara pulau Sabang dengan daratan Aceh – Belanda memaklumkan perang kepada Aceh. Mulai saat itu, Aceh tertimpa malapetaka dan Belanda sendiri menghadapi suatu peperangan yang paling dahsyat, terbesar, dan terlama semenjak kehadirannya di Nusantara Namun demikian, permakluman perang tersebut tidak serta merta diikuti dengan kegiatan fisik militer karena Belanda masih menunggu terhimpunnya kekuatan perangnya yang sedang bergerak menuju Aceh dan kapal-kapal perang Belanda yang telah tiba di Aceh terus melakukan pengintaian dan provokasi di perairan Aceh. Selain itu, Belanda mengirim surat kepada Sultan yang meminta agar ia mengakui kedaulatan Belanda. Dinyatakan pula bahwa Aceh telah melanggar pasal-pasal perjanjian pada tahun 1857. Batas waktu yang diberikan 1 x 24 jam oleh Belanda kepada Sultan Aceh menunjukkan bahwa Belanda benar-benar akan
menyerang. Jawaban yang diberikan Sultan jauh dari memuaskan bahkan ditegaskan bahwa di dunia tidak seorang pun yang berdaulat kecuali Allah semata (Said, 1961: 397).

Dihadapkan dengan kenyataan perang yang akan segera meletus, maka Aceh melakukan mobilisasi, baik di sekitar pantai yang berhadapan langsung dengan armada Belanda seperti di sekitar Ule Lheue, Pantai Ceureumen, Kuta Meugat, Kuala Aceh maupun di tempat strategis lainnya serta pusat-pusat kekuatan di Mesjid Raya, Peunayong, Meuraksa, Lam Paseh, Lam Jabat, Raja Umong, Punje, Seutuy, dan di sekitar Dalam (Kraton Sultan). Akhirnya, tindak lanjut dan Permakluman perang Belanda kepada Aceh menjadi kenyataan. Pada tanggal 6 April 1873 dengan kekuatan 3.200 prajurit dan 168 perwira yang dipimpin J.H.R. Kohler, Belanda mendaratkan pasukananya di Pantai Ceureumen. (Sofyan, 1990: 26). Dengan demikian, terlihatlah nyata niat jahat Belanda untuk menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh. Suatu perang kolonial resmi telah dikibarkan oleh pihak Belanda. Perang ini kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai “Perang Belanda atau Perang Kaphe Ulanda”, yang oleh Belanda dikenal dengan “Perang Aceh”. Kemudian, pantai Ceureumen pun menjadi lautan darah. Banyak anggota pasukan Belanda dan rakyat Aceh yang gugur. Menurut catatan para pejuang Aceh yang gugur diperkirakan 900 orang (Reid, 1969: 21-35). Walaupun demikian, penyerangan pertama Belanda ini dianggap gagal karena serangan ini tidak berhasil menundukkan Aceh. Di samping kuatnya perlawanan, kurangnya informasi tentang Aceh serta keadaan musim yang tidak menguntungkan menjadi sebab serangan pertama Belanda ini gagal. J.H.R. Kohler sebagai panglima perang pun tewas tertembak oleh seorang anggota pasukan Aceh di dekat Masjid Raya. Belanda tidak dapat menguasai kraton. Mereka dipukul mundur dengan menderita kekalahan berat, 45 orang tewas termasuk 8 opsirya serta 405 orang luka-luka diantaranya 23 opsir. Pada tanggal 29 April 1873 pasukan Belanda ditarik kembali ke Batavia (Sofyan, 1990: 85).

Hal ini menunjukkan bahwa Belanda tidak tahu kondisi Aceh secara menyeluruh. Semula Belanda menduga Aceh dapat ditaklukkan dengan mudah seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Menurut Belanda pada saat itu Aceh berada
dalam masa kemunduran apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, baik dari segi politik maupun segi ekonomi. Tentang ini Kraijnhoof, misalnya, menyimpulkan bahwa situasi pemerintahan kesultanan Aceh lemah dan perlengkapan militer tidak berarti dibandingkan dengan Belanda. Oleh karena itu, Belanda berani menyerang Aceh. Namun kenyataanya perang Belanda di Aceh tidak hanya mencakup masalah ekonomi dan politik, tetapi ada segi-segi lain yang tidak diperhitungkan oleh Belanda, sehingga Belanda menelan kekalahan (Ahmad, dkk, 1993:4). Kegagalan ekspansi pertama ini menyebabkan pemerintah Belanda melipatgandakan pasukannya untuk menundukkan Aceh. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda memanggil seorang pensiunan jenderal, J. Van Swieten. la diangkat sebagai panglima perang pada agresi kedua ini dengan kekuatan 249 perwira dan
6.950 tentara (Sofyan, 1990: 28). Dipundaknya terdapat tugas berat untuk menyerang dan merebut Aceh dan kepadanya juga diberi wewenang mengadakan perjanjian dengan sultan. Selain menjadi panglima perang, ia diangkat pula sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda di Aceh. Dalam agresi kedua ini Belanda berhasil menduduki istana dan mesjid raya pada tanggal 24 Januari 1874. Namun Belanda tidak berhasil menangkap Sultan beserta keluarganya. Sementara itu, Sultan beserta keluarganya dan pengikutnya sudah lebih dulu menyingkir ke Longbata pada tanggal 15 Januari 1874 sehingga usaha Van Swieten untuk menangkap Sultan menemui kegagalan. Di tempat baru ini Sultan mendirikan markas pertahanannya. Bersama-sama dengan Panglima Polem dan para pengikutnya yang lain bertekad untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda. Namun nasib buruk tidak dapat dihindari Sultan Mahmud Syah, ia diserang wabah kolera dan mangkat pada tanggal 29 Januari 1874 di Pagar Ayer dan dimakamkan di Cot Bada (Pusponegoro, dkk, 1992: 249). Sebagai penggantinya diangkatlah Sultan Muhammad Daud yang masih kecil sebagai Sultan Aceh. Sejak itulah pemerintah Belanda dengan bermacam-macam siasat politiknya berusaha menaklukkan seluruh Aceh seperti yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Pembesar kerajaan, panglima dan rakyat Aceh yang masih mencintai kemerdekaan mengungsi ke pedalaman dan mengadakan perlawanan. Pada waktu Seulimum jatuh pada tahun 1879 dapat dikatakan seluruh Aceh Tiga Sagi berada dalam kekuasaan Belanda dan pemerintahan sipil pun berjalan dengan lancar (Jakub, 1952: 21).

Kaum pejuang mundur ke daerah yang masih merdeka Sultan. Muhammad Daud yang masih kecil itu serta pengiringnya mengungsi ke pedalaman di Keumala, daerah Pidie, sedangkan rakyat pejuang mundur ke Gunung Biram Lamtamot, di kaki Gunung Seulawah. Mereka tidak mau menyerah, biar mati dalam hutan, asal jangan ditangkap musuh. Namun perlawanan secara teratur tidak ada lagi. Kaum pejuang yang berada di kaki Gunung Selawah tersebut lama kelamaan tidak sabar dan menderita terus-menerus dalam hutan menahan gigitan nyamuk Malaria dan kekurangan makanan. Oleh karena itu, muncullah kemudian dua golongan di kalangan kaum pejuang tersebut, ada yang terpaksa menyerah pulang ke kampung halaman karena tidak tahan menderita lebih lama. Ada pula yang mendaki Seulawah menuju daerah Pidie mencari bantuan untuk meneruskan perjuangan.

Pada awal tahun 1881, mereka tiba di Tiro menjumpai Tgk Chik Muhammad Amin Dayah Tjut, seorang ulama Tiro yang mempunyai pengaruh besar. Dua kali diadakan musyawarah antara pemimpin- pemimpin dan ulama- ulama seluruh Pidie. Keputusannya diangkatlah Tgk Sjech Saman, yang terkenal kemudian dengan Tgk Chik Di Tiro, menjadi panglima perang untuk merebut kembali tanah air yang telah jatuh ke tangan musuh. Dengan demikian, dalam kondisi yang amat genting di mana kraton, mesjid raya, wilayah lainnya dikuasai Belanda sata semangat pejuang yang mulai menurun amatlah tepat kalau kemudian muncul kepemimpinan Tgk Sjech Muhammad Saman Dia seorang pejuang yang mendengungkan perang di jalan Allah, Perang Sabil. Siapa pun yang mati di medan perang, maka disebut mati syahid, surgalah ganjarannya. Pada akhirnya, perang dikumandangkan menyebar ke seluruh wilayah Aceh. Seluruh lapisan masyarakat bahu-membahu mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh. Masa Remaja hingga Masa Dewasa Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848 di kampung Lam Padang Peukan Bada, wilayah VI mukim, Aceh Besar. la merupakan seorang putri uleebalang yang berdarah pahlawan, Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI mukim, bagian wilayah XXV mukim. Teuku Nanta Seutia berasal dari keturunan Machoedoem Sati, seorang perantau dari daerah Sumatera Barat. la diperkirakan datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir (1711-1733). Machoedoem Sati kemudian berpindah ke muara sungai Woyla, perbatasan daerah Pidie, kampung itu bernama Kuala Bhee dan menetap di sana. Atas jasajasanya pada Sultan Aceh, Machoedoem Sati diberi kekuasaan di VI mukim untuk turun temurun dan namanya diganti menjadi Nanta Seutia Raja. la kemudian memiliki dua orang putera yang diberi nama Teuku Nanta Seutia dan Teuku Cut Mahmud. Teuku NanTa Setia yang kemudian menjadi penerus uleebalang VI mukim. la adalah ayah Cut Nyak Dhien, sedangkan Teuku Cut Mahmud menikah dengan adik raja Meulaboh Cut Mahani. Hasil perkawinan ini lahirlah 4 orang putera, salah seorang diantaranya adalah Teuku Umar (yang kemudian menjadi suami ke 2 Cut Nyak Dhien setelah suami pertama syahid). Oleh karena itu bukanlah suatu kebetulan kalau dalam tubuh Nyak Dhien bersemi semangat kepahlawan yang luar biasa. Ibu Cut Nyak Dhien juga berasal dari keturunan bangsawan, putri seorang uleebalang terkemuka dari kemukiman Lampagar, juga bagian wilayah VI mukim (Szekely Lulofs, 1950: 16). Sebagaimana lazimnya Putri bangsawan dan putri Aceh lainnya, sudah sejak kecil Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan itu diberikan, baik oleh orang tuanya maupun oleholeh guru-guru agama pada waktu itu. Pengetahuan tentang rumah tangga seperti memasak, cara menghadapi atau melayani suami, serta hal-hal yang menyangkut tata kehidupan sehari-hari didapatkan dari didikan ibunya dan kerabat orang tua perempuan tersebut. Sebagai seorang putri uleebalang dengan sendirinya Cut Nyak Dhien terbawa dan terpengaruh oleh pola dan cara hidup bangsawan. Karena pengaruh didikan agama yang kuat, Cut Nyak Dhien memiliki sifat-sifat yang tabah, lembut dan tawakal (Sufi, 1994: 83).

Seperti lazimnya pada masyarakat bangsawan di Aceh, perjodohan antara sesama kerabat bangsawan menjadi hal yang lumrah. Di saat Cut Nyak Dhien menginjak 12 tahun, ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak saudara laki-laki dari pihak ibunya yang bernama Teuku Ibrahim. Putra Teuku Po Amat, uleebalang Lam Nga XIII mukim Tungkop, Sagi XXVI mukim Aceh Besar. Teuku Ibrahim anak seorang uleebalang, tetapi juga disebabkan ia seorang pemuda yang taat kepada agama, berpandangan luas, seorang alim yang memperoleh pendidikan agama dari Dayah Bitay. Pernikahan mereka dilangsungkan secara meriah. Teuku Nanta mendatangkan penyair terkenal Do Karim untuk membawakan syairnya dihadapan para undangan. Syair-syair yang dibawakannya mengandung ajaran-ajaran agama yang sangat berguna bagi pegangan hidup. Setelah Cut Nyak Dhien dan Teuku Ibrahim merasa sudah cukup siap mandiri membiayai rumah tangganya mereka pindah ke rumah yang telah disediakan oleh Teuku Chik Nanta untuk mereka. Pendorong Perjuangan Cut Nyak Dhien Melawan Belanda Pecahnya perang Aceh melawan kolonial Belanda 1873 menggerakkan seluruh rakyat Aceh untuk berjuang mengusir kolonial. Sultan Aceh, uleebalang-uleebalang beserta rakyatnya bersama-sama mempertahankan Aceh dan serangan Belanda Masjid raya dan kraton dipertahankan mati-matian oleh pasukan Aceh. Akhirnya, masjid raya jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 6 Januari 1874. Kraton terus menerus dihujani oleh peluru dan dapat dikuasai oleh Belanda pada tanggal 31 Januari 1874.

Selama berkecamuknya peperangan Teuku Chik Ibrahim meninggalkan Cut
Nyak Dhien di Lam Padang untuk berjuang. Oleh karena itu, Teuku Chik Ibrahim
jarang berada di rumah. Bersama dengan Teuku Imeum Leung Bata maju ke
perbatasan VI mukim dan berusaha menaklukkan Meuraxa. Belanda semakin gencar
untuk menundukkan daerah-daerah lainnya di luar Kraton dan Mesjid Raya.
Pasukan Belanda bergerak terus menuju wilayah IX mukim dan pasti akan
menuju ke VI mukim. Berbulan-bulan Teuku Chik Ibrahim tidak bertemu dengan Cut
Nyak Dhien. Kedatangannya ingin mengabarkan bahwa Cut Nyak Dhien dan rakyat
VI mukim harus meninggalkan Lam Padang mengungsi ke tempat yang aman dan
menyiapkan bekal karena akan melakukan perjalanan panjang. Pada tanggal 29
Desember 1875 rombongan Cut Nyak Dhien meninggalkan Lam Padang.
Pasukan Teuku Nanta dan Teuku Chik Ibrahim yang bermaksud
mempertahankan VI mukim akhirnya harus menyingkir akibat serangan Belanda
yang dipimpin oleh Van Der Hayden. Akhirnya, daerah VI mukim berhasil dikuasai
oleh Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1878 dalam suatu pertempuran di Lembah
Beurandeun Gle’ Taron, kemukiman Montasik, Sagi XXII Mukim, Teuku Ibrahim dan
beberapa pengikutnya syahid. Menurut Szkely Lulofs (1951) penyebab peristiwa itu,
selain persenjataan Belanda yang lebih unggul, juga karena adanya pengkhianatan
yang dilakukan oleh seseorang yang bernama Habib Abdurrahman (Hazil, 1952: 41-
42; Sufi, 1994: 84).
Perjuangan Cut Nyak Dhien
Kekecewaan dan kesedihan sebagai akibat ditinggal suaminya dan darah
kepahlawanan yang mengalir dari keluarganya menjadi dasar yang kuat bagi
perjuangan Cut Nyak Dhien, bahkan ia pernah berjanji akan bersedia kawin dengan
laki-laki yang dapat membantunya untuk menuntut bela terhadap kematian
suaminya (Hazil, 1952: 43).
Adalah suatu hal yang tepat apabila kemudian datang laki-laki yang bersedia,
membantu Cut Nyak Dhien membalaskan dendamnya kepada Belanda dengan
melakukan perjuangan dalam peperangan. Setelah beberapa bulan menjanda, ia
dipinang oleh Teuku Umar yang kebetulan adalah cucu dari kakek Cut Nyak Dhien
sendiri. Teuku Umar yang berjiwa muda, keras dan jalan pikirannya yang tidak
mudah diduga-duga, berbeda dengan Cut Nyak Dhien yang lembut, agung,
bijaksana, tabah dan sabar. Dua pribadi yang bertolak belakang. Mulanya Cut Nyak
Dhien menolak pinangan itu, tetapi karena Teuku Umar memberi restu apabila Cut
Nyak Dhien ikut dalam peperangan secara langsung, ketimbang di rumah saja.
Bersatunya dua kesatria ini mengobarkan kembali semangat juang rakyat
Aceh. Kekuatan yang telah terpecah kembali dipersatukan. Belanda di Kutaraja
mendengar juga pernikahan antara Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Uleebalang
yang memihak Belanda merasa kecut juga mendengar pernikahan mereka. Adapun
Tgk Chik di Tiro dan kawan-kawan seperjuanganya amat mendukung pernikahan
mereka. Apalagi mereka berdua terjun langsung ke dalam medan peperangan.
Bukti dari ampuhnya persatuan kedua pejuang Aceh ini adalah dapat direbut
kembali wilayah VI mukim dari tangan Belanda. Cut Nyak Dhien dapat pulang ke
kampung halamannya lagi. Ketika itu ayah Cut Nyak Dhien, Nanta, sudah sangat
tua. Oleh karena itu, Cut Rayut diangkat menjadi uleebalang pengganti Nanta.
Namun sesungguhnya, pengangkatan ini hanya sekedar kamuflase saja. Dengan
diangkatnya Cut Rayut sebagat uleebalang, Cut Nyak Dhien akan bebas menjalankan
politik dalam perjuangan Aceh. Kemudian, Cut Nyak Dhien kembali membangun
rumah tangganya dengan Teuku Umar di Lampisang. Rumah ini menjadi markas
pertemuan para tokoh pejuang dan alim ulama yang mengobarkan semangat jihad
fisabilillah.
Selama Cut Nyak Dhien mendampingi Teuku Umar banyak hal yang dapat
dijadikan sebagai sebuah pengalaman yang menarik. Teuku Umar adalah sosok
pejuang rakyat yang unik, ia dicintai rakyat tetapi la pernah dibenci juga. Taktik
Teuku Umar di dalam peperangan menghadapi Betanda tergolong “aneh” bagi orang
lain dan juga Cut Nyak Dhien. la pernah membantu Belanda, atas permintaan
Gubernur Aceh Loging Tobias, untuk membebaskan Kapal Inggris yang terdampar
kemudian disita oleh Teuku Imam Muda Raja Tenom. Namun pada saat itu terjadi
penyerangan terhadap awak kapal yang dilakukan oleh anak buah Teuku Umar.
Sesudah peristiwa tersebut Teuku Umar kembali ke Lampisang dan ia tidak mau
bekerja sama dengan Belanda. Karena itu Belanda kembali bersatu dengan pejuang
Aceh, tetapi pejuang Aceh tidak yakin tekad baik Teuku Umar. Persoalan ini selesai
setelah kapal Nisiero baru dapat diselesaikan setelah Belanda membayar tebusan
sebesar 100.000 dollar kepada Raja Tenom (Reid, 1969: 218-249).
Kejadian lain adalah ketika pada tanggal 14 Juni 1886 Teuku Umar kembali
mengadakan serangan terhadap kapal Hok Canton. Kapal ini berlabuh di pantai
Rigaih. Waktu itu Hansen beserta istrinya dan juru mudi Faya ditawan. Karena
Hansen meninggal, maka istrinya dan Faya dibawa ke gunung. Belanda berusaha
untuk mencari kontak dengan Teuku Umar, tetapi tidak ada hasilnya. Sekali lagi
Gubemur Aceh menyerahkan tebusan sebesar 25.000 dollar (Sartono Kartodirdjo,
1977: 219-220). Kali ini uang itu diberikan kepada Teuku Umar. Oleh Teuku Umar,
uang itu dibagi-bagikan kepada para pejuang Aceh sebagai bukti kesetiannya kepada
Aceh.
Namun kemudian ada hal yang membuat pejuang Aceh tercengang kembali.
Pada tanggal 30 September 1893 Teuku Umar beserta pasukannya yang
berkekuatan 250 orang secara resmi menyatakan tunduk kepada gubenur Belanda di
Kutaraja. Teuku Umar bersedia membantu Belanda untuk mengamankan Aceh.
Karena itu Pasukannya diberi perlengakapan yang cukup. Teuku Umar sendiri
diangkat sebagai panglima dengan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Rumahnya di
Lampisang dibangun oleh pemerintah Belanda. Bentuknya disesuaikan dengan
bentuk rumah seorang pejabat, lengkap dengan taman dan kebun serta fasilitas
lainnya (Ibrahim, 1996: 51). Teuku Umar kemudian menjalankan tugas dari Belanda
untuk merebut daerah-daerah yang masih dikuasai oleh pejuang Aceh, yang berhasil
dijalankan dengan baik oleh Teuku Umar. Namun dalam kenyataannya, apa yang
dilakukan oleh Teuku Umar tersebut merupakan sebuah sandiwara besar yang
dibuatnya bersama dengan istrinya, Cut Nyak Dhien.
Oleh karena itu, setelah tidak beberapa lama kemudian (kurang lebih 3
tahun), Teuku Umar pada tanggal 29 Maret 1896 ia kembali membawa pasukannya
untuk bergabung kembali dengan pejuang Aceh beserta perlengkapan persenjataan
pemberian Belanda. Mengetahui tindakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Teuku
Umar, Belanda mencabut jabatan sebagai panglima perang, gelar kebesaran “Johan
Pahlawan” dan menyatakan perang terhadap Teuku Umar. Rumahnya di Lampisang
dibakar dan dihancurkan oleh Belanda.
Akhirnya, Teuku Umar beserta Cut Nyak Dhien pergi ke daerah Barat Aceh
dan bertempur habis-habisan melawan Belanda. Selama itu pula Belanda terus
mengejar keberadaan pasukan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Pada tanggal 11
Februari 1899 Teuku Umar berniat menyerang kedudukan Belanda di Meulaboh.
Ternyata rencana Teuku Umar ini telah diketahui oleh pihak Belanda. Belanda
menanti pasukan Teuku Umar di daerah Suak Ujung Kalak Meulaboh. Di daerah ini
kemudian menjadi daerah pertempuran. Teuku Umar sahid tertembak peluru dari
pihak Belanda. Jenazahnya dibawa oleh pasukan Aceh ke daerah lain (Ibrahim,
1996: 68). Kematian Teuku Umar didengar oleh Cut Nyak Dhien. Walaupun Teuku
Umar telah sahid, Cut Nyak Dhien tidak menyerah kepada Belanda. la bertekad
untuk melanjutkan perjuangan Teuku Umar.
Sejak terjunnya Cut Nyak Dhien ke arena peperangan secara langsung, bukan
hanya ratusan korban yang timbul, tetapi ribuan jiwa dan jutaan uang. Sebagai
pemimpin ia tidak pernah merasa lelah dan takluk. la seorang yang fanatik dan
tabah. Mampu merasakan pahit perjuangan bersama-sama dengan pengikutnya.
Masuk dan keluar belantara, naik dan turun gunung hingga ia uzur dan rabun tetap
rencong terselip di pinggangnya dan siap terhunus untuk musuhnya.
Cut Nyak Dhien juga mendapat dukungan yang begitu besar dari temanteman
seperjuangan, setiap saat ia selalu memberikan semangat untuk memerangi
kaphe kompeni melalui fatwa yang dikeluarkannya. Senandung syair-syair perang
sabil selalu dikumandangkannya. Cut Nyak Dhien didukung oleh uleebalang
Meulaboh, Datuk-datuk, penghulu dan lain-lain. Mulai dari yang tinggi sampai rakyat
biasa dapat dipengaruhi oleh Cut Nyak Dhien supaya memihaknya. Tulisan C. Van
der Pal (Said, 1961) menyatakan bahwa:
“Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nyak Dhien
sendiri. Serangan-serangan kelewang yang hebat-hebat dialami oleh Belanda
umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas perintah Cut Nyak Dhien
sendiri. Untuk selanjutnya segala perjuangan yang ada di Aceh, terutama di
Aceh Besar adalah menurut petunjuknya”.
Tokoh-tokoh besar yang mendampingi perjuangan Cut Nyak Dhien
diantaranya Teuku Ali Baet menantunya, merupakan orang yang aktif membantu Cut
Nyak Dhien, baik dengan uang maupun senjata. Teuku Raja Nanta, adik dari Cut
Nyak Dhien, yang selalu bersama-sama bergerilya mengarungi rimba. Namun
kemudian berpisah karena keadaan semakin sulit akibat kepungan-kepungan
Belanda. Teuku Raja Nanta terus bergerilya di pedalaman Meulaboh, dan akhimya
mati Syahid pada saat kepergok dengan pasukan Belanda. Pendukung Cut Nyak
Dhien lainnya yaitu Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglimn Polim yang terus
mengobarkan perang sabil di daerah Pidie.
Teuku Mayet di Tiro dan Cut Gambang anak dan menantunya yang hingga
Cut Nyak Dhien berada dalam pembuangan tetap melakukan gerilya di hutan
belantara Tangse dan mati syahid dalam pernyerbuan Betanda dibawah komando
Schmidt di bulan Agustus 1910. Banyak lagi pejuang-pejuang lainnya yang menjadi
Pendukung perjuangan Cut Nyak Dhien.
Sebaliknya Belanda juga tidak henti-hentinya mengejar kemanapun
gerilyawan Cut Nyak Dhien dan pengikutnya diperkirakan berada serta, terus
diadakan penggerebekan dan penyerbuan-penyerbuan. Cut Nyak Dhien berusaha
keras untuk menghindarkan diri dan setiap usaha tentara Belanda untuk
menangkapnya dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang
lainnya. Tempat persembunyiannya tidak pernah diketahui oleh masyarakat biasa,
banyak ketentuan-ketentuan yang diberlakukan, diantaranya penyamaran dan
memakai anak-anak kecil sebagai mata-mata. Persembunyiannya hanya terbuat dari
gubuk yang ditutupi dedaunan, dilarang pemakaian api karena dapat memberikan
petunjuk dengan adanya kepulan asap. Tempat menuju ke persembunyiannya dibuat
menyesatkan, untuk menjaga keselamatan diadakan penjagaan oleh pengikutpengikutnya
secara bergantian.
Sebagai seorang yang telah terbiasa oleh suasana perang mulai dari
pengalaman orang tua dan suaminya Teuku Cik Ibrahim dan Teuku Umar, dan juga
beberapa orang saudaranya yang lain, memberikan rasa dendam dan ketegaran
yang cukup mengakar di dalam batinnya. Cut Nyak Dhien adalah seorang ibu dan
seorang pemimpin di mata rakyat, memberikan ketenteraman dan harapan-harapan
di dalam hati rakyat untuk sebuah kemerdekaan dan kedamaian.
Ada dua orang Belanda yang cukup terkenal pada masa perjuangan Cut Nyak
Dhien yaitu Van Heutsz dan Van Daalen. Banyak sudah korban berjatuhan, selama
Van Heutsz memimpin tentara di Aceh (1898-1904), kerugian yang diderita oleh
rakyat Aceh telah berjumlah 20.600 orang. Pada tanggal 8 Februari 1904 Van Daalen
melakukan perjalanan panjang (long march) selama 163 hari ke pedalaman Aceh. la
disertai 10 brigade marsose. Tujuannya untuk menumpas habis perlawanan rakyat
Aceh yang masih aktif di Tanah Gayo (Aceh Tengah dan Aceh Tenggara). Selama
perjalanan itu beberapa daerah pejuang Aceh berhasil ditaklukan.
Akibatnya ruang gerak gerilyawan semakin terbatas, meskipun demikian
semangat perlawanan Cut Nyak Dhien tidak pernah padam, tetapi pendukungnya
semakin melemah kekuatannya, baik secara fisik maupun mental. Secara fisik
terlihat dengan situasi yang serba kekurangan bahan makanan dan obat-obatan.
Untuk memperoleh makanan gerilyawan tidak lagi bebas berkeliaran di desa-desa
karena setiap gerak-gerik yang mencurigakan ditangkap oleh marsose. Mereka
hanya memakan daun dan umbi-umbian yang ada di dalam hutan, dan berteduh
pada gubuk-gubuk darurat yang siap untuk ditinggalkan guna menghindari
pengejaran kompeni.
Mental mereka juga mengendur dengan adanya penghacuran-penghacuran
yang dilaksakan oleh kompeni terhadap kubu-kubu pertahanan tanpa meninggalkan
satu manusia pun tersisa. Selain itu, sering pula dilakukan penyandraan terhadap
istri dan anak-anak mereka agar, gerilyawan itu menyerahkan diri, dan mop seperti
ini tampanya sangat mengena.
Cut Nyak Dhien menderita bersama pengikut-pengikutnya tanpa apapun yang
dialaminya. Harta benda habis pada suatu penyerbuan yang tiba-tiba dari pihak
Belanda di bulan April 1905.
Seharusnya Belanda dapat menemukan Cut Nyak Dhien di tempat
persembunyiannya, tetapi karena ketangkasannya Cut Nyak Dhien dapat melarikan
diri, tetapi barang- barang perbekalan dan perhiasan tidak sempat dibawa. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya alat-alat pembantu yang dibutuhkan setiap
gerilyawan.
Selama enam tahun Cut Nyak Dhien memimpin perjuangan bersama
pengikutnya. Kerentaan karena usia, penyakit encok, dan rabun melemahkan
tubuhnya. Sumber makanan yang tidak pasti karena benar-benar telah habis.
Penderitaan yang begitu berat membuat iba Pang Laot selaku panglimanya. Suatu
saat pernah disampaikannya perasaan ini kepada Cut Nyak Dhien untuk
menghentikan perlawanan. Kemarahan, kemurkaan, dan caci maki yang diterima
oleh Pang laot dari Cut Nyak Dhien, dengan suara keras dan murka Cut Nyak Dhien
berkata: Lebih baik aku mati di rimba ini daripada menyerah kepada kafir.
Walaupun demikian Pang Laot dengan berat hati mengkhianati Cut Nyak
Dhien. la memutuskan untuk melapor kepada Belanda. Pang Laot memunculkan diri
di bivak Belanda yang dipimpin oleh Letnan Van Vuuren. Kehadirannya
memunculkan kecurigaan, tetapi karena Pang Laot datang untuk berunding dan
menyerahkan Cut Nyak Dhien, maka Letnan Van Vuuren menyambut baik
kedatangannya. Van Vuuren membawa Pang Laot kepada atasannya Van Veltman.
Perundingan diadakan, Pang Laot bersedia menyerahkan Cut Nyak Dhien dengan
syarat Cut Nyak Dhien harus dijaga sebaik-baiknya, perundingan pun disepakati.
Atas kesepakatan bersama Pang Laot mencari Cut Nyak Dhien ke Pameue.
Pada tanggal, 23 Oktober 1905 Van Veltman mengerahkan pasukannya sebanyak 6
brigade (satu brigade sebanyak 20 bayonet). Pencariaan pertama masih mengalami
kegagalan. Pada suatu tempat di dalam rimba yang diperhitungkan gubuk milik Cut
Nyak Dhien diadakan penyergapan. Walaupun kedatangan pasukan marsose yang
mengejutkan pasukan Cut Nyak Dhien yang tinggal sedikit jumlahnya masih sempat
melakukan perlawanan. Perlawan yang tidak berimbang dan tergesa-gesa
mengakibatkan banyaknya timbul korban. Panglima Habib Panjang yang saat itu
ditugaskan Cut Nyak Dhien menjaga disitu tewas ketika hendak menyelamatkan
anak buahnya (Said, 1961).
Perjalanan untuk pencarian Cut Nyak Dhien dilanjutkan, Pang laot dan Van
Veltman memutuskan untuk mencarinya ke hutan-hutan Beutong. Untuk menempuh
tempat ini tidaklah mudah harus naik turun gunung dan melewati hutan-hutan
besar. Tiga hari lamanya perjalanan baru mencapai Beutong. Itu pun Van Veltman
dan pasukannya tidak menemukan apa-apa, semua jejak telah dihapus. Pang Laot
mengusulkan untuk menunggu hingga bekal habis.
Pada 7 Nopember 1905, di saat seorang anak kecil kurir Cut Nyak Dhien
tertangkap oleh Pang laot, maka terungkaplah dimana pondok persembunyian Cut
Nyak Dhien. Gerak cepat Van Veltman memerintahkan anak buahnya untuk
menyerang pondok tersebut. Saat itu Cut Nyak Dhien sedang bersama Cut
Gambang. Perlawanan tetap dilakukan, Cut Gambang sempat melarikan diri dengan
luka di dadanya (Said, 1961).
Cut Nyak Dhien sudah begitu uzur, matanya rabun, berjalan pun hanya
ditandu oleh pengawalnya. Amarahnya begitu memuncak kepada Pang Laot dan
Kompeni. Caci maki dan sumpah serapah dilontarkan Cut Nyak Dhien kepada
keduanya. Van Veltman menberikan rasa hormat kepada Cut Nyak Dhien, tetapi Cut
Nyak Dhien merasa ini tidak ada artinya sama sekali, karena ia merasa lebih baik
mati dari pada harus tunduk kepada kompeni.
Sesuai dengan kesepakatan antara Pang Laot, Letnan Van Vuuren dan Kapten
Van Veltman maka Cut Nyak Dhien dibawa ke Kutaradja. Cut Nyak Dhien
diperlakukan sebagaimana layaknya seorang Puteri bangsawan dengan makanan,
pakaian, dan pelayanan yang baik. Simpati rakyat tidak pernah berkurang
kepadanya. Dalam tahanan di Kutaradja berganti-gantian rakyat menjenguknya. Hal
ini pula yang menimbulkan kecemasan kepada pemerintah kolonial. Van Daalen yang
saat itu sebagai Gubernur Belanda di Kutaradja tidak menghendaki suasana ini
karena dianggap akan membahayakan, karena kemungkinan antara rakyat dengan
Cut Nyak Dhien masih dapat dilakukan. Disebabkan hal di atas pada tahun 1907 Cut
Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang. Pada tanggal 6 November 1908 Cut Nyak
Dhien meninggal dalam pengasingan jauh dari keluarga dan rakyat yang dicintainya.

Berbagi Informasi

    Leave a Reply