Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien (1850-1908)
Perempuan Aceh Berhati Baja
Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih dan tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis Belanda. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja, dalam usianya yang lanjut, masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.
Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1850 ini, sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya, adalah pejuang-pejuang kemerdekaan dan merupakan Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Jiwa pejuang memang sudah diwarisi Cut Nyak Dien dari ayahnya seorang pejuang kemerdekaan yang tidak kenal kompromi dengan penjajahan. Dia dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda sehingga hal ini semakin mempertebal jiwa patriotnya. Ketika Lampadang, tanah kelahirannya diduduki Belanda pada bulan Desember 1875, Cut Nyak Dien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan ayah serta suaminya. Perpisahan dengan sang suami, Teuku Ibrahim Lamnga, yang dianggap sementara itu ternyata menjadi perpisahan untuk selamanya. Cut Nyak Dien yang menikah ketika masih berusia muda, begitu cepat ditinggal mati sang suami yang gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum pada bulan Juni 1878.
Gugurnya sang suami membuat hati ibu muda yang masih berusia 28 tahun bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya sekaligus bersumpah hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu usahanya menuntut balas. Setelah sepeninggal suaminya, dengan dibantu para pasukannya, dia terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dua tahun setelah kematian suami pertamanya tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Sumpahnya yang hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu menuntut balas kematian suami pertamanya benar-benar ditepati.
Pada tahun 1893 Teuku Umar, pernah berpura-pura melakukan kerja sama dengan Belanda hanya untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Setelah tiga tahun berpura-pura bekerja sama, Teuku Umar berbalik memerangi Belanda. Tapi dalam satu pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Pebruari 1899, Teuku Umar gugur. Cut Nyak Dien kembali sendiri lagi. Tapi walaupun tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut, dia terus melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah tidak mengenal kata kompromi walau dengan istilah berdamai sekalipun. Perlawanan yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh, sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya tapi tidak pernah berhasil. Seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya pun semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit untuk memperoleh makanan.
Melihat keadaan yang demikian, anak buah Cut Nyak Dien merasa kasihan walaupun sebenarnya semangatnya masih tetap menggelora. Atas dasar kasihan tersebut, seorang panglima perang dan kepercayaannya yang bernama Pang Laot, tanpa sepengetahuannya berinisiatif menghubungi pihak Belanda, dengan maksud agar Cut Nyak Dien bisa menjalani hari tua dengan sedikit tenteram walaupun dalam pengawasan Belanda. Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda, namun Pasukan Belanda berhasil menangkap tangannya lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh. Walaupun berada di dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang Aceh lainnya. Tindakannya itu membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pembuangan itulah akhirnya Cut Nyak Dien meninggal dunia dan dimakamkan di Sumedang pada tanggal 6 Nopember 1908.
Perjuangan dan pengorbanan yang tidak mengenal lelah dan didorong rasa kecintaan pada bangsanya dapat dijadikan contoh dan teladan bagi generasi muda saat ini. Atas perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada negara, Cut Nyak Dien dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional.











