Kebudayaan bumi Cenderawasih

ppuaTifa bertabuh merangkai irama. Riuh penari melantunkan syair dari atas perahu menuju dermaga Kalkote, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, tempat berlangsungnya Festival Danau Sentani, Jumat (19/6).

Satu per satu kelompok tari dari tiap kampung dan distrik berbaris di samping panggung. Tidak kurang 24 kelompok tari dengan ciri khas masing-masing tampil di festival tahunan yang kedua kalinya digelar.

Pada tari Tanini dari Distrik Kaureh, penari mengenakan pakaian tradisional mallo dari kulit kayu dihiasi kalung khenahari dari manik-manik dan hiasan oranauw-menauw di pergelangan kaki dan tangan. Para laki-laki penari membawa busur dan anak panah dilengkapi topi berhias burung cenderawasih sebagai simbol kebesaran.

Di sudut lain, penari dari Kampung Assei meriasi wajah dan tubuhnya dengan cat putih dan merah dan penari dari Kampung Putali menari-nari kecil di ujung dermaga. Kampung Putali kali ini akan membawakan tari Sia Kimbung, tari tradisional yang menggambarkan kegembiraan saat membawa hasil buruan atau hasil kebun. Pakaian dan atribut mereka pun berasal dari dedaunan, akar pohon, dan janur.

ppu1Pertunjukan berlanjut dengan tarian di atas perahu berkeliling Danau Sentani. Sorak-sorai penonton kian menyulut semangat penari, seakan enggan menghentikan gerak tubuh.

Luas Danau Sentani sekitar 9.360 hektar di ketinggian lebih dari 75 meter di atas permukaan laut. Danau ini salah satu danau terbesar di Papua dan menjadi bagian dari Cagar Alam Cycloops yang luasnya sekitar 245.000 hektar.

Hamparan air dengan pulau-pulau membentuk susunan bukit menghijau di tengah danau yang memiliki kekayaan biota danau. Tumbuhan dan hewan endemik khas Papua hidup di danau eksotis ini.

Festival Danau Sentani boleh jadi seremoni tahunan untuk menjamu wisatawan, tetapi syair dan gerak tari pesertanya mengisyaratkan pesan damai dari kemajemukan budaya dan masyarakat di Bumi Cenderawasih ( Kompas.com )

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.